Belum Punya Sertifikat TOEFL ? Ikuti Testnya Disini …

Belum Punya Sertifikat TOEFL ? Ikuti Testnya Disini …

Penerimaan pegawai di BUMN, BUMD, Perusahaan, bahkan di CPNS, serta beasiswa memerlukan sertifikat TOEFL Test  sebagai resume.

Belum punya sertifikat TOEFL?

Segera bergabung di TOEFL Test yang akan diadakan oleh Magic English pada:

Minggu, 11 September 2016
Jam 8.00 s/d 11 WIB (gel 1)
Jam 11.30 s/d 14 WIB (gel 2)

Biaya Rp. 115.000*

*diskon Rp. 35.000 sampai 8 September 2016.

Info & pendaftaran, langsung ke Magic English
Jln. Kangkung No. 24D Pringgan (sebelah bimbel Adzkia STAN)
Telp. (061) 4510326
Hp. 081240001097
Pin BB: 5985B3E6

Dapatkan tutorial / penjelasan trik-trik memperoleh skor di atas 500 sebelum test.

Saatnya Kita Berperang

Saatnya Kita Berperang

Masih ingat dengan Pak Guru Dasrul ?

Iya, beliau adalah guru SMKN 2 Makassar yang tempo waktu dipukul oleh Adnan Ahmad, orangtua dari Alif Syahdan, siswa kelas 2 jurusan Gambar. Kejadian ini bermula ketika Adnan tidak terima bahwa anaknya ditampar oleh Pak Guru Dasrul karena tidak mengerjakan tugas PR-nya. Pak Guru Dasrul juga tidak menampik bahwa ia telah menampar Alif Syahdan karena tidak mengerjakan PR kemudian mengumpat dengan kata-kata kasar.

Akibat aduan anaknya itu, Adnan sontak menjadi emosi. Ia lagsung mendatangi sekolah, Rabu (10/8) lalu, kemudian masuk ke kelas dan memukuli Dasrul. Bahkan dari katanya, Alif Syahdan juga ikut-ikutan memukuli Pak Guru Dasrul. Aksi brutal itu berhenti setelah Dasrul dilarikan siswa dan guru ke luar ruangan.

Setelah kejadian tersebut, kini Pak Guru Dasrul harus dirawat di rumah sakit karena mengalami patah tulang hidung.

Dari kejadian ini, saya tidak ingin mengajak kita untuk gegabah. Ikut pula menghakimi Adnan Ahmad sebagai orang tua. Tidak pula membela Pak Guru Dasrul karena sebagai korban. Dua hal yang sebenarnya harus saling mengoreksi diri. Baik itu guru, terlebih para orang tua yang tidak boleh serta-merta reaktif berlebihan karena aduan anak, yang seharusnya diseleksi terlebih dahulu.

Sekolah sebagai tempat menimba ilmu sudah sepantasnya jauh dari segala macam kekerasan. Mulai dari kekerasan psikis, apalagi kekerasan fisik. Tidak boleh sama sekali. Warga sekolah, seperti kepala sekolah, pegawai, guru, murid hingga orangtua murid harusnya memiliki misi dan visi yang seiring untuk memajukan dunia pendidikan secara bersama-sama.

Memang, ketika berbicara tentang emosi, sulit bagi kita berpikir wajar. Layaknya orang normal. Ketika emosi segala hal seolah halal. Logika menjadi tidur. Tidak berfungsi sama sekali. Disinilah pentingnya pengendalian diri bahwa emosi (seperti amarah, dendam dan kebencian) akan selalu menyisakan penyesalan di akhir kejadian.

Dari kejadian ini, saya menyaksikan bahwa lain dulu, lain pula sekarang. Kalau dulu, masa-masa sekolah dulu. Ketika saya menerima hukuman fisik dari guru. Entah itu dicubit, dijewer, dimarahi atau dipukul. Istilah lainnya, disetrap! Seperti harus hormat ke arah bendera selama berjam-jam, dijemur di bawah terik matahari, membersihkan toilet, menghitung anak tangga, mengumpulkan sampah, menyapu halaman atau ‘diusir’ keluar kelas hingga tidak boleh mengikuti pelajaran untuk beberapa waktu. Bagi saya, ini kejadian yang memalukan sekaligus menakutkan. Malu karena disaksikan oleh banyak teman-teman. Bahkan takut agar orangtua jangan sampai mengetahui kalau saya dihukum oleh bapak/ibu guru.

Mengapa demikian? Pasalnya, kalau saya melapor atau ketahuan orangtua bahwa saya dihukum oleh guru karena berbagai kesalahan, yang saya terima bukanlah pembelaan atau pun rasa kasihan. Sebaliknya, orangtua saya malah makin berang bukan main. Marahnya malah bertambah-tambah. Saya makin dihukum. Itu bedanya. Jangan sampai orangtua saya tahu kalau saya dihukum.

“Buat malu saja. Mau jadi anak preman? Hah?!” Begitu kata ayah saya.

Namun kejadian sekarang beda. Kasus pemukulan guru SMKN 2 Makassar menunjukkan bahwa zaman sudah berbeda. Anak yang dihukum, justru malah mendapat dukungan penuh orangtua untuk menghukum balik si guru. Saya tidak tahu;  apakah dengan alasan HAM dan lain sebagainya, sehingga kini zaman sudah sangat berubah?!

Tapi yang jelas, saya dan kita harus sepakat bahwa kekerasan memang tidak boleh terjadi lagi di lingkungan sekolah. Kita harus perangi hal tersebut. Kekerasan harusnya tidak menjadi alat oleh siapapun untuk menundukkan apapun. Kekerasan bukanlah jalan satu-satunya dalam menyelesaikan masalah. Ketahuilah bahwa kekerasan hanya akan menimbulkan masalah baru di masa depan. Itu sebabnya, mari kita perangi kekerasan!

Kita masih punya PR besar di negera ini. Kebodohan masih merajalela, kemiskinan masih terus bertambah, bahkan tingkat korupsi dan peredaran narkoba masih berada di tingkat yang mengkhawatirkan. Sesungguhnya, inilah peperangan yang harus kita selesaikan bersama-sama.

Semoga Pak Guru Dasrul lekas sembuh !

Salam,

#Adzkia STAN is the Best

Muhammad Ramli, ST., M. Si.

CEO Bimbel Adzkia STAN Medan

Founder Revan Institute

Penulis Buku

Pokemon Go Untuk Siswa

Pokemon Go Untuk Siswa

Sejak awal diluncurkannya, permainan realitas yang dimainkan dalam telepon seluler pintar ini, banyak menuai pro dan kontra. Apalagi Indonesia yang belakang baru-baru ini rilis dan resmi diedarkan. Siapapun kini dapat memainkannya. Meski beberapa intansi juga melarang permainan ini dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan keamanan hingga produktivitas.

Karena game ini memberikan kombinasi antara dunia virtual dan dunia nyata. Pemainnya dapat pergi ke suatu lokasi di dunia nyata, untuk menangkap pokemon yang muncul dalam game tersebut. Tidak hanya itu, pemain dapat bertempur melawan Pokemon lain, mengungkap berbagai jenis item termasuk Poke Balls dan telur di PokeStops, serta menetas dan melatih Pokemon baru.

Hal lain yang membuat Pokemon Go begitu diminati tentu saja para pengguna harus berjalan mengikuti petunjuk yang ada di ponsel. Jadi, dibutuhkan usaha alias kemauan untuk bergerak! Meski kemudian yang juga patut diperhatikan dalam permainan adalah kita tetap harus waspada terhadap lingkungan sekitar. Saat mencari Pokemon, seseorang dapat terlalu fokus terhadap ponsel sehingga tidak memerhatikan kendaraan atau bahaya lain di depan mata.

Jadi, tanpa disadari, kombinasi antara hiburan, tindakan nyata dan tantangan sesungguhnya membuat seseorang lebih antusias melakukan suatu hal. Inilah yang ada pada game Pokemon Go. Saya tidak bisa bayangkan, apa yang terjadi jika ketiga kombinasi ini digunakan siswa dalam proses belajar-mengajar.

Ketika Anda (seorang siswa) tidak bersemangat dalam belajar dan meraih prestasi, bisa jadi Anda tidak memiliki ketiga kombinasi ini; hiburan, tindakan nyata dan tantangan! Sesungguhnya inilah hikmah terdalam yang dapat dipetik dari hebohnya Pokemon Go tersebut.

HIBURAN, gendangnya bisa dua. Anda kurang hiburan atau terlalu banyak hiburan. Kurang hiburan bisa membuat proses belajar menjadi sangat menjenuhkan. Ketika jenuh tentu saja siapapun akan tampak sangat loyo dan tidak bersemangat. Begitu juga dengan terlalu banyak hiburan. Anda akan masuk dalam kondisi yang sangat nyaman (comfort zone). Semua serba ada, semua serba bisa.

Resepnya, begitu Anda merasa sangat jenuh maka carilah hiburan sederhana dalam rangka meregangkan tubuh dan pikiran Anda. Ambillah aktivitas yang berbeda dari biasanya. Tinggalkan sesaat rutinitas yang menjenuhkan itu. Ambil kegiatan baru yang positif dalam rangka membuat tubuh dan pikiran menjadi rileks. Namun ketika Anda sudah merasa bahwa hiburan terlalu lama dan banyak. Segeralah tinggalkan! Temukan tantangan baru yang lebih menuntut Anda masuk dalam aktivitas nyata.

AKTIVITAS NYATA, tidak bisa dipungkiri bahwa ketika Anda belajar sering bertanya-tanya dalam hati bahwa apakah semua materi pelajaran yang seabreg ini bakal digunakan atau bermanfaatkan di dunia kerja? Bisakah dipakai untuk mencari uang? Pertanyaan yang sederhana namun sangat mendasar.

Ada baiknya, agar proses belajar dapat terus menggairahkan tidak ada salahnya Anda bertanya kepada guru tentang aplikasi materi terhadap kehidupan sehari-hari. Semakin Anda berhasil menemukan korelasinya maka semakin baik. Hal ini akan membantu Anda lebih memahami materi tersebut secara lebih permanen.

TANTANGAN, kalau belajar tidak menyenangkan. Mungkin, Anda kurang tantangan. Niatkan dalam hati untuk memiliki motto, “Hari ini harus lebih baik daripada kemarin!” artinya, kalau hari ini hanya dua mata pelajaran yang dapat nilai 10, misalnya. Maka pacu semaksimal mungkin diri Anda untuk meraih nilai terbaik di sebanyak mata pelajaran yang ada.

Ketika tahun ini hanya mampu meraih rangking 5 besar di dalam kelas. Maka berjanjilah kepada diri sendiri untuk melampaui batasan dirimu dengan menggapai prestasi 3 besar di sekolah. Tantangan terbaik sejatinya adalah prestasi tiada henti. Itu sebabnya, ketiga kombinasi yang ada dalam game Pokemon Go dapat Anda adaptasi dalam rangka meningkatkan prestasi belajar.

Jadi, main Pokemon Go tetap harus ingat waktu dan selalu waspada, ya!

Salam,
#Adzkia STAN is the Best

Muhammad Ramli, ST., M. Si
CEO Bimbel Adzkia STAN Medan
Founder Revan Institute
Penulis Buku

Jadilah Pelajar Yang Merdeka

Jadilah Pelajar Yang Merdeka

Kini, sudah 71 tahun Indonesia merdeka. Lepas dari belenggu penjajah. Kita tidak lagi hidup di era peperangan. Dimana penindasan secara massal dan masif terjadi. Kemerdekaan sudah selesai kita perjuangkan. Tidak ada lagi yang berhak merampas ibu pertiwi dari tangan anak bangsa. Kita hidup dimana zaman sudah bebas. Bebas menentukan nasibnya sendiri. Bebas tidak lagi terkungkung oleh campur tangan bangsa lain.

Tapi, apakah betul kita sudah merdeka secara arti yang sesungguhnya?

Apakah benar bahwa kita sudah terlepas dari kungkungan negara lain?

Apakah kita sudah bebas menentukan nasib sendiri tanpa intervensi bangsa lain?

Tentu saja setiap kita punya hak menjawabnya. Terkhusus pelajar, ketika kini kamu menjadi pelajar, apakah kamu sudah benar-benar merdeka? Merdeka dari kebodohon? Merdeka dari tindakan anarkis seperti tawuran, narkoba atau pergaulan bebas?

Lantas, seperti apa pelajar yang merdeka itu?

Setelah merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, Bung Karno dan Hatta selalu merindukan agar bangsa ini dan aset negara ini dikelola oleh anak bangsa sendiri. Sebagaimana tulisan Mustika Rachel 12 dalam laman situs pribadinya, www. Mustikarachel12.damai.id, menjelaskan bahwa Bapak bangsa ini berharap sekembalinya, para pemuda-pemudi ini bisa membangun negeri dan mengajarkan kepada anak bangsa lainnya. Sehingga, bangsa Indonesia menjadi makmur, kuat, dan tidak tergantung oleh bangsa lain.

Namun, fakta menunjukkan di bidang sains dan ilmu pengetahuan, Indonesia masih kalah dibanding negara lain. Meski usia negeri ini sudah 71 tahun.

Berdasarkan laporan www.scimagojr.com, situs olahan pemeringkatan publikasi ilmiah, pada tahun 2014 Indonesia berada di peringkat ke-57 (32.355) kalah jauh dibanding negara sesama ASEAN seperti Singapura di peringkat 32 (192.942), Malaysia di peringkat 36 (153.378) dan Thailand dengan jumlah publikasi 109.832 dan menempati peringkat 43.

Profesor Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, ilmuwan asal Indonesia yang menjadi peneliti di Jepang, menilai dunia penelitian di dalam negeri masih belum merdeka. Peneliti Indonesia belum bebas berekspresi dan masih minim dari perhatian.

Setidaknya, ciri-ciri pelajar yang merdeka itu adalah:

a.    Belajar Sungguh-sungguh

Ciri ini menjadi vital karena tugas utama seorang pelajar adalah belajar. Meraih prestai yang mengharumkan nama bangsa di kancah dunia sudah sepatutnya menjadi cita-cita setiap pelajar Indonesia.

Prestasi yang gemilang bukan didapat dari aktivitas yang main-main. Justru diraih dengan kerja keras, disiplin tinggi dan konsisten. Tidak ada hasil yang baik jika dikerjakan dengan sekedarnya. Termasuk juga belajar. Maka, ciri pertama pelajar yang merdeka adalah memiliki segudang prestasi yang membanggakan.

b.    Cinta akan Khasanah Budaya Indonesia

Pelajar yang merdeka dibuktikan dengan kecintaannya terhadap budaya dan tradisi bangsanya. Tidak kemudian menjadikan tradisi dan budaya bangsa lain yang lebih dibangga-banggakan. Bukankah tidak sedikit para pelajar kita yang cenderung mencintai budaya negara lain ketimbang budaya negaranya sendiri?

Secara lisan, banyak diantara pelajar kita yang mantab menjawab bahwa budaya bangsanya jauh lebih dicintai ketimbang budaya bangsa lain. Namun secara praktik, jauh panggang dari api.

Betapa tidak, para remaja kita yang lebih tertarik dengan tarian barat ketimbang tarian daerah kita sendiri, lebih tertarik berbusana negara barat ketimbang berbusana adat bangsa sendiri, lebih suka makanan luar negeri ketimbang makanan asal daerah di negara sendiri, dsb.

Saat ini kita tidak sedang berperang secara terang-terangan, angkat senjata, melawan negara lain. Tapi perang budaya dengan negara lain sepertinya masih saja terus berlangsung. Untuk itu, ciri pelajar yang merdeka berikutnya adalah mereka yang benar-benar mencintai khasanah budaya bangsa sendiri. Baik paham secara teori, terlebih lagi memaksimalkannya secara praktik.

c.    Bebas dari Perbudakan Hawa Nafsu

Tentu saja hawa nafsu yang dimaksud adalah sesuatu yang menyesatkan. Pelajar yang merdeka tentunya harus merdeka dari kebodohan, tawuran, pergaulan bebas dan narkoba. Pelajar yang merdeka tidak melulu mengikuti nafsu yang membuat dirinya tidak produktif.

Padahal, kita ketahui, bahwa pelajar adalah aset masa depan negara yang harus tumbuh dan berkembang menjadi insan-insan yang berkualitas.

Lantas, seperti apa pelajar yang merdeka itu menurut kamu? Beri jawabannya di kolom komentar, ya. ^_^