Pokemon Go Untuk Siswa

Pokemon Go Untuk Siswa

Sejak awal diluncurkannya, permainan realitas yang dimainkan dalam telepon seluler pintar ini, banyak menuai pro dan kontra. Apalagi Indonesia yang belakang baru-baru ini rilis dan resmi diedarkan. Siapapun kini dapat memainkannya. Meski beberapa intansi juga melarang permainan ini dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan keamanan hingga produktivitas.

Karena game ini memberikan kombinasi antara dunia virtual dan dunia nyata. Pemainnya dapat pergi ke suatu lokasi di dunia nyata, untuk menangkap pokemon yang muncul dalam game tersebut. Tidak hanya itu, pemain dapat bertempur melawan Pokemon lain, mengungkap berbagai jenis item termasuk Poke Balls dan telur di PokeStops, serta menetas dan melatih Pokemon baru.

Hal lain yang membuat Pokemon Go begitu diminati tentu saja para pengguna harus berjalan mengikuti petunjuk yang ada di ponsel. Jadi, dibutuhkan usaha alias kemauan untuk bergerak! Meski kemudian yang juga patut diperhatikan dalam permainan adalah kita tetap harus waspada terhadap lingkungan sekitar. Saat mencari Pokemon, seseorang dapat terlalu fokus terhadap ponsel sehingga tidak memerhatikan kendaraan atau bahaya lain di depan mata.

Jadi, tanpa disadari, kombinasi antara hiburan, tindakan nyata dan tantangan sesungguhnya membuat seseorang lebih antusias melakukan suatu hal. Inilah yang ada pada game Pokemon Go. Saya tidak bisa bayangkan, apa yang terjadi jika ketiga kombinasi ini digunakan siswa dalam proses belajar-mengajar.

Ketika Anda (seorang siswa) tidak bersemangat dalam belajar dan meraih prestasi, bisa jadi Anda tidak memiliki ketiga kombinasi ini; hiburan, tindakan nyata dan tantangan! Sesungguhnya inilah hikmah terdalam yang dapat dipetik dari hebohnya Pokemon Go tersebut.

HIBURAN, gendangnya bisa dua. Anda kurang hiburan atau terlalu banyak hiburan. Kurang hiburan bisa membuat proses belajar menjadi sangat menjenuhkan. Ketika jenuh tentu saja siapapun akan tampak sangat loyo dan tidak bersemangat. Begitu juga dengan terlalu banyak hiburan. Anda akan masuk dalam kondisi yang sangat nyaman (comfort zone). Semua serba ada, semua serba bisa.

Resepnya, begitu Anda merasa sangat jenuh maka carilah hiburan sederhana dalam rangka meregangkan tubuh dan pikiran Anda. Ambillah aktivitas yang berbeda dari biasanya. Tinggalkan sesaat rutinitas yang menjenuhkan itu. Ambil kegiatan baru yang positif dalam rangka membuat tubuh dan pikiran menjadi rileks. Namun ketika Anda sudah merasa bahwa hiburan terlalu lama dan banyak. Segeralah tinggalkan! Temukan tantangan baru yang lebih menuntut Anda masuk dalam aktivitas nyata.

AKTIVITAS NYATA, tidak bisa dipungkiri bahwa ketika Anda belajar sering bertanya-tanya dalam hati bahwa apakah semua materi pelajaran yang seabreg ini bakal digunakan atau bermanfaatkan di dunia kerja? Bisakah dipakai untuk mencari uang? Pertanyaan yang sederhana namun sangat mendasar.

Ada baiknya, agar proses belajar dapat terus menggairahkan tidak ada salahnya Anda bertanya kepada guru tentang aplikasi materi terhadap kehidupan sehari-hari. Semakin Anda berhasil menemukan korelasinya maka semakin baik. Hal ini akan membantu Anda lebih memahami materi tersebut secara lebih permanen.

TANTANGAN, kalau belajar tidak menyenangkan. Mungkin, Anda kurang tantangan. Niatkan dalam hati untuk memiliki motto, “Hari ini harus lebih baik daripada kemarin!” artinya, kalau hari ini hanya dua mata pelajaran yang dapat nilai 10, misalnya. Maka pacu semaksimal mungkin diri Anda untuk meraih nilai terbaik di sebanyak mata pelajaran yang ada.

Ketika tahun ini hanya mampu meraih rangking 5 besar di dalam kelas. Maka berjanjilah kepada diri sendiri untuk melampaui batasan dirimu dengan menggapai prestasi 3 besar di sekolah. Tantangan terbaik sejatinya adalah prestasi tiada henti. Itu sebabnya, ketiga kombinasi yang ada dalam game Pokemon Go dapat Anda adaptasi dalam rangka meningkatkan prestasi belajar.

Jadi, main Pokemon Go tetap harus ingat waktu dan selalu waspada, ya!

Salam,
#Adzkia STAN is the Best

Muhammad Ramli, ST., M. Si
CEO Bimbel Adzkia STAN Medan
Founder Revan Institute
Penulis Buku