Saatnya Kita Berperang

Saatnya Kita Berperang

Masih ingat dengan Pak Guru Dasrul ?

Iya, beliau adalah guru SMKN 2 Makassar yang tempo waktu dipukul oleh Adnan Ahmad, orangtua dari Alif Syahdan, siswa kelas 2 jurusan Gambar. Kejadian ini bermula ketika Adnan tidak terima bahwa anaknya ditampar oleh Pak Guru Dasrul karena tidak mengerjakan tugas PR-nya. Pak Guru Dasrul juga tidak menampik bahwa ia telah menampar Alif Syahdan karena tidak mengerjakan PR kemudian mengumpat dengan kata-kata kasar.

Akibat aduan anaknya itu, Adnan sontak menjadi emosi. Ia lagsung mendatangi sekolah, Rabu (10/8) lalu, kemudian masuk ke kelas dan memukuli Dasrul. Bahkan dari katanya, Alif Syahdan juga ikut-ikutan memukuli Pak Guru Dasrul. Aksi brutal itu berhenti setelah Dasrul dilarikan siswa dan guru ke luar ruangan.

Setelah kejadian tersebut, kini Pak Guru Dasrul harus dirawat di rumah sakit karena mengalami patah tulang hidung.

Dari kejadian ini, saya tidak ingin mengajak kita untuk gegabah. Ikut pula menghakimi Adnan Ahmad sebagai orang tua. Tidak pula membela Pak Guru Dasrul karena sebagai korban. Dua hal yang sebenarnya harus saling mengoreksi diri. Baik itu guru, terlebih para orang tua yang tidak boleh serta-merta reaktif berlebihan karena aduan anak, yang seharusnya diseleksi terlebih dahulu.

Sekolah sebagai tempat menimba ilmu sudah sepantasnya jauh dari segala macam kekerasan. Mulai dari kekerasan psikis, apalagi kekerasan fisik. Tidak boleh sama sekali. Warga sekolah, seperti kepala sekolah, pegawai, guru, murid hingga orangtua murid harusnya memiliki misi dan visi yang seiring untuk memajukan dunia pendidikan secara bersama-sama.

Memang, ketika berbicara tentang emosi, sulit bagi kita berpikir wajar. Layaknya orang normal. Ketika emosi segala hal seolah halal. Logika menjadi tidur. Tidak berfungsi sama sekali. Disinilah pentingnya pengendalian diri bahwa emosi (seperti amarah, dendam dan kebencian) akan selalu menyisakan penyesalan di akhir kejadian.

Dari kejadian ini, saya menyaksikan bahwa lain dulu, lain pula sekarang. Kalau dulu, masa-masa sekolah dulu. Ketika saya menerima hukuman fisik dari guru. Entah itu dicubit, dijewer, dimarahi atau dipukul. Istilah lainnya, disetrap! Seperti harus hormat ke arah bendera selama berjam-jam, dijemur di bawah terik matahari, membersihkan toilet, menghitung anak tangga, mengumpulkan sampah, menyapu halaman atau ‘diusir’ keluar kelas hingga tidak boleh mengikuti pelajaran untuk beberapa waktu. Bagi saya, ini kejadian yang memalukan sekaligus menakutkan. Malu karena disaksikan oleh banyak teman-teman. Bahkan takut agar orangtua jangan sampai mengetahui kalau saya dihukum oleh bapak/ibu guru.

Mengapa demikian? Pasalnya, kalau saya melapor atau ketahuan orangtua bahwa saya dihukum oleh guru karena berbagai kesalahan, yang saya terima bukanlah pembelaan atau pun rasa kasihan. Sebaliknya, orangtua saya malah makin berang bukan main. Marahnya malah bertambah-tambah. Saya makin dihukum. Itu bedanya. Jangan sampai orangtua saya tahu kalau saya dihukum.

“Buat malu saja. Mau jadi anak preman? Hah?!” Begitu kata ayah saya.

Namun kejadian sekarang beda. Kasus pemukulan guru SMKN 2 Makassar menunjukkan bahwa zaman sudah berbeda. Anak yang dihukum, justru malah mendapat dukungan penuh orangtua untuk menghukum balik si guru. Saya tidak tahu;  apakah dengan alasan HAM dan lain sebagainya, sehingga kini zaman sudah sangat berubah?!

Tapi yang jelas, saya dan kita harus sepakat bahwa kekerasan memang tidak boleh terjadi lagi di lingkungan sekolah. Kita harus perangi hal tersebut. Kekerasan harusnya tidak menjadi alat oleh siapapun untuk menundukkan apapun. Kekerasan bukanlah jalan satu-satunya dalam menyelesaikan masalah. Ketahuilah bahwa kekerasan hanya akan menimbulkan masalah baru di masa depan. Itu sebabnya, mari kita perangi kekerasan!

Kita masih punya PR besar di negera ini. Kebodohan masih merajalela, kemiskinan masih terus bertambah, bahkan tingkat korupsi dan peredaran narkoba masih berada di tingkat yang mengkhawatirkan. Sesungguhnya, inilah peperangan yang harus kita selesaikan bersama-sama.

Semoga Pak Guru Dasrul lekas sembuh !

Salam,

#Adzkia STAN is the Best

Muhammad Ramli, ST., M. Si.

CEO Bimbel Adzkia STAN Medan

Founder Revan Institute

Penulis Buku