Di Usiaku Yang Tak Lagi Muda

Di Usiaku Yang Tak Lagi Muda

Tepat 9 juli bimbel Adzkia berulang tahun yang ke 27, usia yang sudah cukup dewasa, sejak kelahirannya di kota Padang, namun untuk Adzkia di Medan 11 juli ini ia memasuki usia 14 tahun sejak kelahirannya di 2003, tentunya usia remaja adalah usia yang sangat indah bagi Adzkia.

Banyak kisah indah dan membahagiakan khususnya bersama para murid-murid yang sudah sukses kuliah di kampus PKN STAN dan Sekolah Kedinasan lainnya.

Sampai saat ini puluhan ribu alumni Adzkia yang sudah tersebar di PTN terbaik dan hampir 3000 siswa Adzkia sedang menjadi Mahasiswa PKN STAN juga sudah menjadi PNS di Kementerian Keuangan.

Senang melihat kesuksesan mereka, khususnya kedua orang tua tercinta, yang anaknya bisa meringankan beban orangtuanya dengan menjadi pegawai di kementerian keuangan RI.

Tidak itu saja, bahkan para alumni Adzkia yang kami banggakan juga banyak membantu adik-adik kelasnya untuk bisa juga masuk ke PKN STAN seperti mereka.

Bahkan tidak sedikit alumni Adzkia mendirikan bimbel STAN sebagai sarana kepedulian mereka mengantarkan adik-adiknya masuk ke kampus STAN.

Berbekal pengalaman dan gemblengan saat mereka bimbel di Adzkia, kemudian mereka tularkan ke adik-adik kelasnya untuk bisa juga sukses masuk ke kampus STAN.

Sebut saja seperti Alumni Adzkia, Riandi Infinity Ahmad dengan bimbel Infinitynya, Makhrojal Muhammad Nasution dengan Bimbel Science Society.

Mereka ini adalah alumni-alumni Adzkia yang kreatif dan sudah merasakan gemblengan, pendidikan dan pelatihan di kampus Adzkia, kami bangga dengan siswa-siswa kami semua.

Sebagai pelopor bimbel STAN Pertama di Indonesia, Adzkia juga membuka dan terus mengedukasi para teman-teman pengelola bimbel STAN yang ingin memajukan anak-anak bangsa.

Karena itu Adzkia selalu membuka diri dan memberi masukan kepada siapa saja untuk sama-sama belajar dan bertumbuh.

Seperti kemarin saat Adzkia kedatangan Bang Andika CEO Ens Bimbel STAN beberapa bulan lalu ke kampus Adzkia untuk bersilaturrahmi dan berdiskusi bagaimana menggembleng dan mendidik para siswa agar bisa menghadapi persaingan menghadapi UMS PKN STAN yang semakin ketat.

Ens adalah bimbel STAN yang didirikan oleh Bang Wahyu, putra asli daerah Sumut yang juga sempat merasakan latihan-latihan Try Out STAN dari Bimbel Adzkia.

Dan masih banyak lagi bimbel-bimbel STAN di Indonesia yang didirikan oleh alumni-alumni Adzkia, kami bangga dan bersyukur, karena semakin banyak orang-orang yang peduli, untuk membantu adik-adik kami, masuk ke PKN STAN.

Masih banyak lagi kisah sukses alumni-alumni Adzkia lainnya, yang saat ini sudah menjadi PNS di KEMENKEU, KEMENKUMHAM, KEMENDAGRI, BPK, BPKP, KPK, KEMENLU, SEKNEG, BPN, dan BUMN bergengsi lainnya.

Pada kesempatan hari jadi kami ke 27 tahun ini kami ucapakan selamat kepada seluruh alumni Adzkia, semoga Tuhan memberikan keberkahan dan kesuksesan bagi Anda semua.

Amiin.

Di hadapan 700-an Siswa SMKN 1 Percut Sei Tuan, Bimbel Adzkia STAN Sebar Virus Motivasi

Di hadapan 700-an Siswa SMKN 1 Percut Sei Tuan, Bimbel Adzkia STAN Sebar Virus Motivasi

“Kata Valentino Dinsi, siapa yang menguasai informasi, dialah yang menguasai masa depan.

Itu adalah kalimat pembuka dari Bapak Hariyanto, SE., S. Pd., selaku tentor di Bimbel Adzkia STAN, yang saat itu bertindak sebagai pemateri dalam acara sosialisasi motivasi bertajuk, Kenapa Harus Kuliah di STAN?

Kegiatan sosialisasi ini dalam rangka memberikan informasi sekaligus motivasi kepada 700-an siswa SMKN 1 Percut Sei Tuan, Jumat, 23/09, di halaman utama sekolah tersebut.

Lagi-lagi, kita ingin memberikan informasi ke sebanyak-banyak siswa tentang PKN STAN ini. Tujuannya, agar para siswa paham bahwa ada perguruan tinggi kedinasan yang secara waktu sangat singkat dan ketika tamat kuliah maka langsung diangkat menjadi PNS di Kementerian Keuangan, itulah PKN STAN. Jelas Andriya, SE., sebagai kordinator acara.

Kegiatan berdurasi 30-45 menit ini hanya bagian dari rangkaian apel pagi di SMKN 1 Percut Sei Tuan, sehingga siswa kelas X dan XI juga dapat mendengarkan dengan baik materi terkait PKN STAN.

Para pengangguran terdidik saat ini jumlahnya makin meningkat. Mereka adalah para sarjana yang tidak memiliki pekerjaan secara formal. Untuk itulah, ketika Anda tamat dari sekolah ini, PKN STAN dapat menjadi salah satu alternatif pilihan sebagai lanjutan dari jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tambah Hariyanto, SE., S.Pd, di sela-sela penyampaian materinya.

Di sesi akhir acara, para siswa diperbolehkan mengambil brosur informasi Adzkia STAN untuk dapat berdiskusi lebih lanjut mengenai cara sukses untuk lulus di PKN STAN nanti.

Adzkia STAN adalah bimbingan belajar pertama di Indonesia yang khusus membimbing para siswa untuk lulus ke PKN STAN. Tercatat hingga saat ini, sudah ada 2.300-an siswa alumni Adzkia yang lulus di PKN STAN. Untuk itu, kami persilahkan Anda semua untuk membaca info lengkapnya di brosur yang akan kami bagikan setelah acara ini, tambah Hariyanto, SE., S. Pd., sebagai penutup acara sosialisasi tersebut.

Saatnya Kita Berperang

Saatnya Kita Berperang

Masih ingat dengan Pak Guru Dasrul ?

Iya, beliau adalah guru SMKN 2 Makassar yang tempo waktu dipukul oleh Adnan Ahmad, orangtua dari Alif Syahdan, siswa kelas 2 jurusan Gambar. Kejadian ini bermula ketika Adnan tidak terima bahwa anaknya ditampar oleh Pak Guru Dasrul karena tidak mengerjakan tugas PR-nya. Pak Guru Dasrul juga tidak menampik bahwa ia telah menampar Alif Syahdan karena tidak mengerjakan PR kemudian mengumpat dengan kata-kata kasar.

Akibat aduan anaknya itu, Adnan sontak menjadi emosi. Ia lagsung mendatangi sekolah, Rabu (10/8) lalu, kemudian masuk ke kelas dan memukuli Dasrul. Bahkan dari katanya, Alif Syahdan juga ikut-ikutan memukuli Pak Guru Dasrul. Aksi brutal itu berhenti setelah Dasrul dilarikan siswa dan guru ke luar ruangan.

Setelah kejadian tersebut, kini Pak Guru Dasrul harus dirawat di rumah sakit karena mengalami patah tulang hidung.

Dari kejadian ini, saya tidak ingin mengajak kita untuk gegabah. Ikut pula menghakimi Adnan Ahmad sebagai orang tua. Tidak pula membela Pak Guru Dasrul karena sebagai korban. Dua hal yang sebenarnya harus saling mengoreksi diri. Baik itu guru, terlebih para orang tua yang tidak boleh serta-merta reaktif berlebihan karena aduan anak, yang seharusnya diseleksi terlebih dahulu.

Sekolah sebagai tempat menimba ilmu sudah sepantasnya jauh dari segala macam kekerasan. Mulai dari kekerasan psikis, apalagi kekerasan fisik. Tidak boleh sama sekali. Warga sekolah, seperti kepala sekolah, pegawai, guru, murid hingga orangtua murid harusnya memiliki misi dan visi yang seiring untuk memajukan dunia pendidikan secara bersama-sama.

Memang, ketika berbicara tentang emosi, sulit bagi kita berpikir wajar. Layaknya orang normal. Ketika emosi segala hal seolah halal. Logika menjadi tidur. Tidak berfungsi sama sekali. Disinilah pentingnya pengendalian diri bahwa emosi (seperti amarah, dendam dan kebencian) akan selalu menyisakan penyesalan di akhir kejadian.

Dari kejadian ini, saya menyaksikan bahwa lain dulu, lain pula sekarang. Kalau dulu, masa-masa sekolah dulu. Ketika saya menerima hukuman fisik dari guru. Entah itu dicubit, dijewer, dimarahi atau dipukul. Istilah lainnya, disetrap! Seperti harus hormat ke arah bendera selama berjam-jam, dijemur di bawah terik matahari, membersihkan toilet, menghitung anak tangga, mengumpulkan sampah, menyapu halaman atau ‘diusir’ keluar kelas hingga tidak boleh mengikuti pelajaran untuk beberapa waktu. Bagi saya, ini kejadian yang memalukan sekaligus menakutkan. Malu karena disaksikan oleh banyak teman-teman. Bahkan takut agar orangtua jangan sampai mengetahui kalau saya dihukum oleh bapak/ibu guru.

Mengapa demikian? Pasalnya, kalau saya melapor atau ketahuan orangtua bahwa saya dihukum oleh guru karena berbagai kesalahan, yang saya terima bukanlah pembelaan atau pun rasa kasihan. Sebaliknya, orangtua saya malah makin berang bukan main. Marahnya malah bertambah-tambah. Saya makin dihukum. Itu bedanya. Jangan sampai orangtua saya tahu kalau saya dihukum.

“Buat malu saja. Mau jadi anak preman? Hah?!” Begitu kata ayah saya.

Namun kejadian sekarang beda. Kasus pemukulan guru SMKN 2 Makassar menunjukkan bahwa zaman sudah berbeda. Anak yang dihukum, justru malah mendapat dukungan penuh orangtua untuk menghukum balik si guru. Saya tidak tahu;  apakah dengan alasan HAM dan lain sebagainya, sehingga kini zaman sudah sangat berubah?!

Tapi yang jelas, saya dan kita harus sepakat bahwa kekerasan memang tidak boleh terjadi lagi di lingkungan sekolah. Kita harus perangi hal tersebut. Kekerasan harusnya tidak menjadi alat oleh siapapun untuk menundukkan apapun. Kekerasan bukanlah jalan satu-satunya dalam menyelesaikan masalah. Ketahuilah bahwa kekerasan hanya akan menimbulkan masalah baru di masa depan. Itu sebabnya, mari kita perangi kekerasan!

Kita masih punya PR besar di negera ini. Kebodohan masih merajalela, kemiskinan masih terus bertambah, bahkan tingkat korupsi dan peredaran narkoba masih berada di tingkat yang mengkhawatirkan. Sesungguhnya, inilah peperangan yang harus kita selesaikan bersama-sama.

Semoga Pak Guru Dasrul lekas sembuh !

Salam,

#Adzkia STAN is the Best

Muhammad Ramli, ST., M. Si.

CEO Bimbel Adzkia STAN Medan

Founder Revan Institute

Penulis Buku

Pokemon Go Untuk Siswa

Pokemon Go Untuk Siswa

Sejak awal diluncurkannya, permainan realitas yang dimainkan dalam telepon seluler pintar ini, banyak menuai pro dan kontra. Apalagi Indonesia yang belakang baru-baru ini rilis dan resmi diedarkan. Siapapun kini dapat memainkannya. Meski beberapa intansi juga melarang permainan ini dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan keamanan hingga produktivitas.

Karena game ini memberikan kombinasi antara dunia virtual dan dunia nyata. Pemainnya dapat pergi ke suatu lokasi di dunia nyata, untuk menangkap pokemon yang muncul dalam game tersebut. Tidak hanya itu, pemain dapat bertempur melawan Pokemon lain, mengungkap berbagai jenis item termasuk Poke Balls dan telur di PokeStops, serta menetas dan melatih Pokemon baru.

Hal lain yang membuat Pokemon Go begitu diminati tentu saja para pengguna harus berjalan mengikuti petunjuk yang ada di ponsel. Jadi, dibutuhkan usaha alias kemauan untuk bergerak! Meski kemudian yang juga patut diperhatikan dalam permainan adalah kita tetap harus waspada terhadap lingkungan sekitar. Saat mencari Pokemon, seseorang dapat terlalu fokus terhadap ponsel sehingga tidak memerhatikan kendaraan atau bahaya lain di depan mata.

Jadi, tanpa disadari, kombinasi antara hiburan, tindakan nyata dan tantangan sesungguhnya membuat seseorang lebih antusias melakukan suatu hal. Inilah yang ada pada game Pokemon Go. Saya tidak bisa bayangkan, apa yang terjadi jika ketiga kombinasi ini digunakan siswa dalam proses belajar-mengajar.

Ketika Anda (seorang siswa) tidak bersemangat dalam belajar dan meraih prestasi, bisa jadi Anda tidak memiliki ketiga kombinasi ini; hiburan, tindakan nyata dan tantangan! Sesungguhnya inilah hikmah terdalam yang dapat dipetik dari hebohnya Pokemon Go tersebut.

HIBURAN, gendangnya bisa dua. Anda kurang hiburan atau terlalu banyak hiburan. Kurang hiburan bisa membuat proses belajar menjadi sangat menjenuhkan. Ketika jenuh tentu saja siapapun akan tampak sangat loyo dan tidak bersemangat. Begitu juga dengan terlalu banyak hiburan. Anda akan masuk dalam kondisi yang sangat nyaman (comfort zone). Semua serba ada, semua serba bisa.

Resepnya, begitu Anda merasa sangat jenuh maka carilah hiburan sederhana dalam rangka meregangkan tubuh dan pikiran Anda. Ambillah aktivitas yang berbeda dari biasanya. Tinggalkan sesaat rutinitas yang menjenuhkan itu. Ambil kegiatan baru yang positif dalam rangka membuat tubuh dan pikiran menjadi rileks. Namun ketika Anda sudah merasa bahwa hiburan terlalu lama dan banyak. Segeralah tinggalkan! Temukan tantangan baru yang lebih menuntut Anda masuk dalam aktivitas nyata.

AKTIVITAS NYATA, tidak bisa dipungkiri bahwa ketika Anda belajar sering bertanya-tanya dalam hati bahwa apakah semua materi pelajaran yang seabreg ini bakal digunakan atau bermanfaatkan di dunia kerja? Bisakah dipakai untuk mencari uang? Pertanyaan yang sederhana namun sangat mendasar.

Ada baiknya, agar proses belajar dapat terus menggairahkan tidak ada salahnya Anda bertanya kepada guru tentang aplikasi materi terhadap kehidupan sehari-hari. Semakin Anda berhasil menemukan korelasinya maka semakin baik. Hal ini akan membantu Anda lebih memahami materi tersebut secara lebih permanen.

TANTANGAN, kalau belajar tidak menyenangkan. Mungkin, Anda kurang tantangan. Niatkan dalam hati untuk memiliki motto, “Hari ini harus lebih baik daripada kemarin!” artinya, kalau hari ini hanya dua mata pelajaran yang dapat nilai 10, misalnya. Maka pacu semaksimal mungkin diri Anda untuk meraih nilai terbaik di sebanyak mata pelajaran yang ada.

Ketika tahun ini hanya mampu meraih rangking 5 besar di dalam kelas. Maka berjanjilah kepada diri sendiri untuk melampaui batasan dirimu dengan menggapai prestasi 3 besar di sekolah. Tantangan terbaik sejatinya adalah prestasi tiada henti. Itu sebabnya, ketiga kombinasi yang ada dalam game Pokemon Go dapat Anda adaptasi dalam rangka meningkatkan prestasi belajar.

Jadi, main Pokemon Go tetap harus ingat waktu dan selalu waspada, ya!

Salam,
#Adzkia STAN is the Best

Muhammad Ramli, ST., M. Si
CEO Bimbel Adzkia STAN Medan
Founder Revan Institute
Penulis Buku